×

INFO PENTING!!!

Perpustakaan KLHK tidak pernah menawarkan kepada Perusahaan manapun untuk penjualan Buku Peraturan LH.

Selasa, 28 Februari 2017
Full teks Content E-Book dalam format file .pdf, dapat diunduh jika anda terdaftar sebagai Anggota Perpustakaan premium dengan biaya keanggotaan sebesar Rp. 100.000,-/tahun. Untuk Cara pembayaran dapat dilihat menu KEANGGOTAAN pada submenu JENIS KEANGGOTA      
Cari di Bagian :
Tahun :
Katalog Perpustakaan
Info Buku Terbaru
Lihat saran-saran ataupun informasi yang pernah anda kirim ke kami? Dapat dilihat disini!. Atau jika anda Memiliki saran-saran atau tanggapan atas pelayanan Perpustakaan Emil Salim ini? Klik Disini!
Kami Baca Untuk Anda
Selasa, 28 Februari 2017
Hampir 1,5 tahun ini, tembok setinggi 1 meter terpasang di tepi Sungai Cipinang di Kelurahan Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Tembok dibangun pemerintah untuk mengurangi banjir. Apa daya, tembok yang belum sempurna itu tetap memberi celah air mencapai permukiman warga. "Ya masih banjir juga sekarang, tetapi enggak setinggi tahun-tahun lalu," kata Kursin (62), penjahit pakaian, akhir tahun lalu. Tokonya terpisahkan jalan selebar sekitar 1,5 meter dari tembok sungai itu. Sepanjang 2016, kata Kursin, banjir satu kali menggenangi jalan di depan tokonya. Namun, banjir setinggi 50 sentimeter itu tak masuk ke toko. Toko itu sudah ditinggikan 60 cm dari jalan pada 1992 atau 14 tahun setelah ia membuka toko di situ. Pembuatan tanggul juga dilakukan swadaya masyarakat. Salah satunya di RT 002 RW 002 Kelurahan Kelapa Dua Wetan, Ciracas, Jakarta Timur. Di lokasi ini, warga membangun tanggul di sepanjang aliran Sungai Cipinang yang melintasi permukiman mereka. Tanggul dibuat sekitar 2013. Inisiatif warga ini muncul karena batas sungai dengan jalan sangat tidak jelas jika air sungai meluap. "Dulu, orang dan sepeda motor sering tercebur ke sungai. Sekarang batas jalan sudah jelas jadi lebih aman," kata Sekretaris RT 002 RW 002 Eddy Poerwono. Untuk membuat tanggul, warga yang berjumlah 64 keluarga pada akhir 2016 itu swadaya mengumpulkan dana. Pembuatan tanggul itu menghabiskan Rp 6,5 juta. Sebelumnya, warga juga membebaskan lahan untuk pembuatan jalan di tepian sungai. Di Kampung Rambutan, Sungai Cipinang juga pernah membuat banjir permukiman sekitarnya, termasuk merendam Jalan Tol Simatupang dan jalan menuju Terminal Kampung Rambutan. "Sekarang tidak (banjir) lagi karena selain dilebarkan, sungai juga dikeruk sampai dalam. Gorong-gorong yang dekat jalan tol juga dibenahi. Rumah-rumah di sini, yang dihuni sekitar 1.000 keluarga, sudah dibebaskan," kata Mardi (53), warga RT 003 RW 006 Kelurahan Kampung Rambutan, Ciracas. Dikepung permukiman Sejumlah upaya pemerintah atau warga itu menunjukkan keinginan untuk bebas dari banjir. Di sisi lain, bantaran sungai dikepung permukiman sehingga setiap kali air sungai meluap berarti banjir ke rumah warga. Kondisi ini berbeda dengan masa lalu ketika bantaran sungai berupa kebun atau sawah. Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane T Iskandar dalam wawancara akhir tahun lalu mengatakan, pemanfaatan ruang di kanan dan kiri Sungai Cipinang tidak semestinya, termasuk adanya hunian padat. Kondisi padat permukiman terlihat sangat jelas di sejumlah lokasi, antara lain di Jalan Radar AURI, Ciracas. Di lokasi yang juga batas antara Depok dan Jakarta Timur ini, tembok rumah warga menjadi "dinding" kali juga. Dinding sejumlah rumah bersentuhan langsung dengan aliran kali lengkap dengan pipa-pipa pembuangan air limbah. Terlihat juga lahan yang dijadikan penampungan barang rongsokan. Sedikit banyak sampah atau barang di situ memenuhi lereng kali bahkan ada yang nyemplung ke badan kali. Kondisi serupa terlihat terus hingga ke hilir Sungai Cipinang, yang tidak lain adalah pertemuan antara Sungai Cipinang dan Sungai Sunter. Lokasi itu ada di perbatasan RW 010 dan RW 016 Kelurahan Cipinang serta RW 008 Kelurahan Jatinegara Kaum, ketiganya di Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur. Hampir di seluruh sisi sungai, rumah-rumah warga rapat berjajar. Di sisi lain, beban Sungai Cipinang berkurang dengan adanya Kanal Timur pada tahun 2010. Sungai Cipinang menjadi hulu Kanal Timur di Kelurahan Cipinang Besar Selatan, Jatinegara. Jalur asli lanjutan Sungai Cipinang yang lebarnya hanya sekitar 5 meter tidak banyak difungsikan lagi di situ. Air dari Sungai Cipinang selebar 10 meter mendapatkan tempat sepadan, yakni Kanal Timur, yang juga memiliki lebar serupa. Limpasan air pun berkurang.(RATIH P SUDARSONO/HELENA F NABABAN/ AGNES RITA SULISTYAWATY)........SUMBER, KOMPAS, SELASA 28 FEBRUARI 2017, HALAMAN 26
Selasa, 28 Februari 2017
Banjir di Kalimantan Tengah meluas. Saat ini banjir melanda Desa Juking Pajang, Puruk Cahu, Kabupaten Murung Raya, akibat luapan Sungai Barito. Sejak Sabtu (25/2) sampai kini, banjir melanda Desa Nanga Mua dan Kelurahan Pangkut, Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat. Air tak kunjung surut karena hujan turun terus (Kompas, 27/2). "Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito saat musim hujan selalu meluap. Ini terjadi setiap tahun," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Provinsi Kalimantan Tengah Syahril Tarigan di Palangkaraya, Senin. Banjir setinggi 1 meter sejak Minggu (26/2) malam merendam Desa Juking. Sekitar 150 keluarga di desa itu dievakuasi ke tempat yang lebih aman. BPBPK provinsi menyiapkan tempat evakuasi di aula kecamatan untuk pengungsian sementara. "Bantuan logistik sudah kami kirim ke lokasi untuk pengungsi. Sejumlah warga tidak mau dievakuasi karena menjaga harta bendanya," ujar Syahril. DAS Barito menjadi daerah paling rawan dilanda banjir. Kabupaten Murung Raya, Barito Utara, dan Barito Selatan menjadi langganan banjir. Namun, relokasi yang ditawarkan pemerintah ditolak warga. Di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, banjir dan longsor menerjang Dataran Tinggi Dieng, Minggu (26/2). Hal itu menyebabkan 2,5 hektar lahan pertanian gagal panen dan 100 meter saluran drainase rusak. "Kalkulasi sementara, kerugian yang timbul lebih dari Rp 200 juta," ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonosobo Prayitno, Senin. Banjir juga menggenangi rumah, hotel, dan warung-warung makan dengan tinggi air 75 sentimeter hingga 1 meter. Banjir surut pada Minggu sore sekitar pukul 17.00. Potensi lahar Kelud Terkait bencana, Gunung Kelud di perbatasan Kediri, Blitar, dan Malang disebut menyimpan sekitar 20 juta meter kubik material hasil erupsi Februari 2014. Material itu berpotensi menjadi lahar hujan yang berbahaya bagi warga dekat aliran lahar. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kediri Hari Wahyu Jatmiko, Senin, mengatakan, sepekan terakhir intensitas hujan di puncak Kelud cukup tinggi. Hujan deras itu memicu lahar hujan, Sabtu petang. Akibatnya, 26 truk pasir terjebak aliran lahar hujan di Sungai Ngobo, Dusun Wonorejo, Desa Trisulo, Kecamatan Plosoklaten, Kediri. Tidak ada korban jiwa, tetapi dua truk rusak parah. BPBD Kabupaten Kediri mengimbau masyarakat di sekitar alur sungai yang berhulu di Kelud untuk waspada saat intensitas hujan tinggi. Menurut Wahyu, ada lima sungai berhulu di Kelud yang perlu diwaspadai, yakni Mangli (Laharpang), Konto, Bedog, Sumberagung, dan Ngobo. Meski telah diperingatkan, para petambang pasir tetap menambang di alur Kali Ngobo, Senin. Mereka mengambil pasir di tempat sama. Sebagian dari mereka mengevakuasi dua truk yang terjebak lahar hujan. Di Kabupaten Garut, 56 rumah di Desa Sukalilah dan Desa Sukamulya, Kecamatan Sukaremsi, terendam banjir hingga 1 meter. Pemicunya luapan Sungai Cikeruh yang melintasi Garut. Tidak ada korban jiwa. Menurut Kepala BPBD Kabupaten Garut Dadi Djakaria, penyebabnya adalah kebiasaan masyarakat membuang sampah ke sungai. Kepala Bidang Mitigasi Pergerakan Tanah di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Supriyati Andreastuti mengingatkan, jumlah kejadian longsor di Indonesia tahun ini berpotensi lebih tinggi ketimbang setahun lalu. "Kami mencatat lonjakan kejadian longsor tahun 2017. Baru dua bulan ada 177 kejadian. Ini mendekati jumlah kejadian tahun lalu sebanyak 220 kejadian," ujarnya, Senin. Tahun ini, tercatat 16 orang tewas dan 25 orang luka. Sebanyak 286 unit bangunan rusak diterjang longsor. Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Air PVMBG Rudi Suhendar mengatakan, pembangunan di lereng perbukitan mendorong potensi longsor.(IDO/EGI/WER/CHE/BKY).........SUMBER, KOMPAS, SELASA 28 FEBRUARI 2017, HALAMAN 22
BANJIR DI KALIMANTAN TENGAH MELUAS
PEMBUANG SAMPAH DITANGKAP
PEMBANGUNAN PABRIK SEMEN : KLHK TUNGGU KAJIAN STRATEGIS
Dokumen AMDAL
Asia Petroleum Development...
Asia Petroleum Development...
Indorama Synthetics Tbk.
Pustaka Digital
Kementerian Lingkungan Hidup...
Kementerian Lingkungan Hidup...
Kementerian Lingkungan Hidup
Peraturan Perundangan
Peraturan Gubernur
Keputusan Menteri...
Keputusan Menteri Energi Dan...
SLHD
Pemerintah Kabupaten Bantul...
Pemerintah Kota Yogyakarta...
Pemerintah Kota Yogyakarta...
Direktori Lingkungan Hidup
Ilmu dan Teknologi Institusi dan Perorangan
Kawasan Kegiatan
Komputer dan Internet Masyarakat dan Budaya
Anak, Etika, Gender ...
Perubahan Iklim dan Alam Sumber Daya Alam
Air, Energi, Fauna ...
PENIMBUN LIMBAH B3
Badan usaha yang melakukan kegiatan penimbunan limbah B3
Guest User
Member User
Total User
Hits23017236 Hits
Today284 Hits
Hak Cipta © 2008 - 2013 Kementerian Lingkungan Hidup, Hak Cipta Dilindungi Undang-undang
Jl. D.I Panjaitan Kav. 24, Kebon Nanas, Jakarta Timur 13410, Gedung A, Lt.1 Telp : 021-85907286
Jika komputer anda tidak tersedia
aplikasi Adobe Reader,
Klik disini untuk Mengunduh/Download!