Sabtu, 20 Desember 2014
Full teks Content E-Book dalam format file .pdf, dapat diunduh jika anda terdaftar sebagai Anggota Perpustakaan premium dengan biaya keanggotaan sebesar Rp. 100.000,-/tahun.      SELAMAT DATANG DI PERPUSTAKAAN EMIL SALIM KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP , DISINI ANDA DAPAT MENDOWNLOAD PERATURAN LINGKUNGAN SEBANYAK 2215 DALAM VERSI INDONESIA DAN INGGRIS, BUKU SEBANYAK 1006, LAPORAN SLHD SEBANYAK 450 BUKU, KLIPING SEBANYAK 2676 INFORMAS      
Cari di Bagian :
Tahun :
Katalog Perpustakaan
Info Buku Terbaru
Lihat saran-saran ataupun informasi yang pernah anda kirim ke kami? Dapat dilihat disini!. Atau jika anda Memiliki saran-saran atau tanggapan atas pelayanan Perpustakaan Emil Salim ini? Klik Disini!
Kami Baca Untuk Anda
Jumat, 19 Desember 2014
Akses terhadap air minum dan air bersih di Tanah Air kian terancam. Hal itu karena perilaku boros konsumsi air dan kurang menjaga kebersihan. Untuk mengurangi risiko krisis air, perlu pemberdayaan masyarakat. ”Ada tren tak menyenangkan, masyarakat berlebihan memakai air bersih, antara lain di Jakarta dan Surabaya,” kata Pelaksana Harian Jejaring Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) Eko WPurwanto, Kamis (18/12), dalam lokakarya ”Berbagi Pembelajaran Implementasi STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat)”, di Jakarta. Selain perilaku boros menggunakan air, perilaku tak menjaga kebersihan lingkungan, seperti membuang sampah ke sungai, turut mengurangi akses terhadap air minum dan air bersih. Contohnya, Jakarta dialiri 13 sungai, tetapi mayoritas air sungai tak layak dikonsumsi sehingga Perusahaan Daerah Air Minum DKI Jakarta atau PAM Jaya kekurangan sumber air untuk memenuhi kebutuhan warga. Menurut data PAM Jaya, dari sumber lokal, kebutuhan pasokan air hanya tercukupi 4 persen, yakni dari Kali Krukut dan Kali Pesanggrahan. Sementara 96 persen lainnya amat bergantung pasokan air baku dari luar Jakarta, yakni Waduk Jatiluhur (81 persen) dan pembelian air curah dari PDAM Kabupaten Tangerang (15 persen). Jakarta masih butuh tambahan pasokan air 10.000 liter per detik. Secara nasional, data Kelompok Kerja AMPL menunjukkan, akses air minum layak baru 58,05 persen pada 2012, padahal Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) menargetkan akses 68,87 persen. Pada 2009-2012, percepatan akses air minum layak per tahun rata-rata 2 persen. Untuk itu, menutup selisih 10,82 persen dari capaian pada 2012 dengan target MDGs 2015, percepatan rata-rata per tahun harus lebih dari 2 persen. Menurut Ekow, masyarakat paling potensial untuk membantu PDAM tiap daerah dalam meningkatkan akses air. Karena itu, masyarakat perlu diberi edukasi untuk memakai air secara bertanggung jawab, termasuk memberdayakan dana dari masyarakat guna mengelola air bersih. ”Masyarakat sebenarnya punya kemampuan meski berpenghasilan rendah,” kata Ekow. Buktinya, masyarakat di Penjaringan, Jakarta Utara, yang berpenghasilan rendah bisa membeli air PAM dalam jeriken meski terpaksa karena sulit mendapat air bersih. Untuk membeli dua jeriken dengan total 40 liter, mereka harus mengeluarkan biaya Rp 5.000. Padahal, warga yang tinggal di tempat dengan akses air mudah cukup membayar Rp 15.000-Rp 20.000 per meter kubik air bersih (setara 1.000 liter). Singgih Raharja, Pejabat Pembuat Komitmen Satuan Kerja Pembinaan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, menyatakan, di sejumlah daerah terbukti keterlibatan masyarakat lewat program Pamsimas meningkatkan akses terhadap air minum dan air bersih. Contohnya, keterlibatan masyarakat di Desa Tedunan, Kecamatan Wedung, Demak, Jawa Tengah...SUMBER, KOMPAS, KAMIS, 19 DESEMBER 2014, HAL. 13
Kamis, 18 Desember 2014
ISU lingkungan, kesehatan, dan teknologi yang selama puluhan tahun menjadi isu pinggiran, dalam arti kedekatannya dengan pengambil kebijakan tertinggi, secara mengejutkan seperti memperoleh angin segar. Itu tak lepas dari terpilihnya Presiden Joko Widodo, yang memiliki latar belakang sarjana kehutanan, pengusaha mebel, wali kota, dan gubernur. Gaya kepemimpinan Joko Widodo dengan blusukan dan tak puas dengan laporan di atas kertas merupakan karakter yang dibutuhkan untuk mengetahui dan menuntaskan persoalan nyata di lapangan. Tak lama setelah dilantik, Jokowi menjawab tantangan blusukan warga Riau untuk melihat langsung dampak kebakaran hutan dan lahan, November 2014. Singgah di sejumlah tempat dan sempat gagal mendarat di lokasi terdampak kebakaran, keesokan harinya Presiden meninjau lapangan. Secara demonstratif, Jokowi turun langsung ke lahan gambut yang telah dikeringkan di Sei (Sungai) Tohor, Kabupaten Kepulauan Meranti. Di bibir sungai, Presiden menancapkan papan kayu penahan limpasan air gambut. Aksi itu tak biasa. Sejumlah aktivis lingkungan menilai, hanya aksi terobosan yang bisa menyelesaikan kebakaran hutan dan lahan menahun. Pada era pemerintah lalu, upaya memperhatikan isu lingkungan relatif menguat seiring penyidikan kasus-kasus kejahatan lingkungan. Di bidang kesehatan, tantangan tahun 2014 tak jauh berbeda dari tahun sebelumnya. Hal yang membedakan, tahun ini pemerintah mengambil langkah besar dengan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Idenya, setiap warga negara berhak atas layanan kesehatan yang baik. Melalui program itu, banyak rumah sakit peserta JKN dipadati warga, terutama warga miskin yang selama ini tak merasakan layanan rumah sakit. Ketidaksiapan terjadi di mana-mana, mulai dari pendaftaran, kesiapan rumah sakit, dokter, tarif dokter, hingga yang terakhir seputar kegaduhan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan bagi perusahaan dan BUMN. Meski banyak gugatan agar skemanya diperjelas, pemerintah tampaknya keukeuh pada prinsip bahwa BPJS Kesehatan bagi perusahaan dan BUMN tetap akan dimulai 1 Januari 2015. Ratusan juta peserta harus didaftarkan tepat pada waktunya. Di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, hampir tidak ada kebijakan terobosan. Di tengah kekayaan sumber daya alam dan potensi hayati yang butuh sentuhan teknologi, dunia penelitian masih menghadapi persoalan klasik: dana riset nasional yang sangat rendah, kurang dari 0,5 persen produk domestik bruto. Di tengah kondisi itu, LIPI bekerja sama dengan Jepang membangun Indonesia Culture Collection (Ina-CC) di Cibinong, Bogor, yang mengoleksi ribuan isolat mikroba yang berpotensi diteliti lebih lanjut untuk bahan obat, kosmetik, pangan, energi, dan lainnya. Itulah bahan mentah masa depan ekonomi dunia: bioekonomi. Beragam kondisi di atas hanya potret kecil persoalan dan tantangan yang harus kita hadapi. Ada kekhawatiran sekaligus optimisme. Yang masih harus dibuktikan antara lain bagaimana rantai kebijakan mampu merespons tantangan—yang sebagian besar terkait kebijakan birokrasi. Secara kelembagaan, publik menanti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menjawab keraguan akan ketegasan, bagaimana Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi memanggungkan hilirisasi hasil riset hingga industri, Kementerian Kesehatan lebih antisipatif pada persoalan mencegah penyakit, termasuk penyakit baru yang merebak, seperti ebola. Melihat karakter dan jejak presiden baru, harapan akan perubahan layak ditaburkan. Mudah-mudahan bukan semata mimpi pada era transisi...SUMBER KOMPAS, KAMIS, 18 DESEMBER 2014, HAL. 1
BANJARNEGARA KEMBALI DI KEPUNG LONGSOR
JAKARTA INDONESIA BERSIH SAMPAH2020
WISATAWAN KELUHKAN SAMPAH DI PANTAI KUTA
Dokumen AMDAL
Asia Petroleum Development...
Asia Petroleum Development...
Indorama Synthetics Tbk.
Pustaka Digital
Kementerian Lingkungan Hidup...
Kementerian Lingkungan Hidup
Kementerian Lingkungan Hidup
Peraturan Perundangan
Peraturan Menteri Negara...
Peraturan Daerah Kabupaten
Peraturan Daerah Kabupaten
SLHD
Pemerintah Kota Padang
Pemerintah Provinsi Bali
Bapedalda Riau
Direktori Lingkungan Hidup
Ilmu dan Teknologi Institusi dan Perorangan
Kawasan Kegiatan
Komputer dan Internet Masyarakat dan Budaya
Anak, Etika, Gender ...
Perubahan Iklim dan Alam Sumber Daya Alam
Air, Energi, Fauna ...
AIR TERTEKAN
Air tanah dalam akifer yang tertutup lapisan kedap air, mendapat tekanan
Guest User
Member User
Total User
Hits21571424 Hits
Today1146 Hits
Hak Cipta © 2008 - 2013 Kementerian Lingkungan Hidup, Hak Cipta Dilindungi Undang-undang
Jl. D.I Panjaitan Kav. 24, Kebon Nanas, Jakarta Timur 13410, Gedung A, Lt.1 Telp : 021-85907286
Jika komputer anda tidak tersedia
aplikasi Adobe Reader,
Klik disini untuk Mengunduh/Download!