Sabtu, 29 November 2014
Full teks Content E-Book dalam format file .pdf, dapat diunduh jika anda terdaftar sebagai Anggota Perpustakaan premium dengan biaya keanggotaan sebesar Rp. 100.000,-/tahun.      SELAMAT DATANG DI PERPUSTAKAAN EMIL SALIM KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP , DISINI ANDA DAPAT MENDOWNLOAD PERATURAN LINGKUNGAN SEBANYAK 2215 DALAM VERSI INDONESIA DAN INGGRIS, BUKU SEBANYAK 1006, LAPORAN SLHD SEBANYAK 450 BUKU, KLIPING SEBANYAK 2676 INFORMAS      
Cari di Bagian :
Tahun :
Katalog Perpustakaan
Info Buku Terbaru
Lihat saran-saran ataupun informasi yang pernah anda kirim ke kami? Dapat dilihat disini!. Atau jika anda Memiliki saran-saran atau tanggapan atas pelayanan Perpustakaan Emil Salim ini? Klik Disini!
Kami Baca Untuk Anda
Jumat, 28 November 2014
DI tengah maraknya degradasi lingkungan, rasa optimisme tumbuh di tengah perkampungan padat di Kelurahan Bujel, Mojoroto, Kediri, Jawa Timur. Sejak Juni 2011, berdiri sekolah alam Hijau Daun yang menjadikan sampah limbah rumah tangga sebagai medium pembayaran iuran sekolah bagi siswanya. Kini sekolah yang memiliki 35 siswa yang terbagi dalam empat kelas taman bermain dan taman kanak-kanak itu tidak saja menyadarkan masyarakat sekitar tentang pentingnya menjaga lingkungan, tetapi juga membantu anak-anak warga kurang mampu untuk mengenyam pendidikan layak. Lokasi Hijau Daun berada sekitar 500 meter dari Jalan Suparjan Mangunwijaya, Kota Kediri. Sekolah itu menyatu dengan rumah sang pendiri, Endang Pertiwi (43). Di halamannya tumbuh sedikitnya 25 jenis tanaman langka, seperti mojolegi, kepel, mundu, cermai china, dan kelayu tumbuh. Ada pula ratusan tanaman obat, antara lain daruju, dewandaru, dandang gendis, dan sambang darah juga menghiasi lahan seluas 1,5 hektar tersebut. Untuk mendukung proses belajar, pihak pengelola menyediakan sejumlah satwa, seperti burung, ayam, tupai, kura-kura, dan mamalia lain. Di sisi kanan jalan masuk sekolah yang berada tak jauh dari sungai alternatif--yang selalu tergenang jika Brantas, sungai yang membelah Kota Kediri meluap—terdapat bank sampah penuh plastik limbah rumah tangga. Sampah tersebut dibawa oleh orangtua siswa untuk membayar iuran. Sedang di beberapa sudut tertera tulisan yang mengingatkan kepada siapa saja yang berada di tempat itu untuk selalu menjaga lingkungan. ”Meski murid-murid masih kecil, mereka sudah peka bagaimana menjaga lingkungan tetap bersih. Bagaimana membuang sampah yang benar,” kata Ika Furi Handayani (24), salah satu dari lima pengajar, Jumat (21/11). Jalur pendidikan Hijau Daun berdiri karena dilandasi semangat ingin memperbaiki lingkungan. Endang menuturkan, dari waktu ke waktu banyak terjadi kerusakan alam yang perlu segera ditangani secara riil. Ia memilih melalui jalur pendidikan dengan harapan generasi penerus bangsa ini bisa mendapatkan pemahaman sejak dini tentang menyayangi lingkungan. ”Jika dasarnya telah kokoh, ke depan mereka juga akan kuat dalam menjaga lingkungan,” tuturnya. Sebelum sekolah yang dirintis itu berdiri, masyarakat setempat masih cuek dengan sekeliling. Mereka sering membuang sampah organik dan anorganik ke sungai. Selain karena kesadaran rendah, kondisi ekonomi juga memengaruhi. Mereka yang masuk kategori keluarga berekonomi kurang mampu tidak cukup kuat untuk membayar retribusi kebersihan yang besarnya mencapai Rp 25.000 per bulan. Dari situlah Hijau Daun kemudian berdiri dengan dua misi sekaligus, yakni menanamkan kecintaan generasi muda terhadap lingkungan dan membantu warga kurang mampu dalam menggapai pendidikan. Di sekitar sekolah Hijau Daun terdapat sejumlah warga berpenghasilan pas-pasan, seperti pembantu rumah tangga, penarik becak, dan tukang kayu. Pada masa awal berdiri pembayaran iuran masih memakai uang Rp 10.000 per bulan hingga akhirnya berdiri Bank Sampah Hijau Daun tahun 2012. Uang pembayaran murid dipakai untuk berbagai kegiatan belajar luar ruang, termasuk makan sehat sekali dalam sepekan. Dalam perkembangannya, pembayaran uang diganti sampah limbah rumah tangga. Hal ini mendapat sambutan positif dari para orangtua siswa. Para orangtua yang kurang mampu bisa membawa sampah, seperti plastik bekas air mineral, kardus, dupleks, hingga kemasan deterjen dan pembersih lantai yang diserahkan tiap pekan atau sebulan sekali. Sampah yang terkumpul lalu dipilah, ditimbang, dan diuangkan oleh anggota dan pengurus bank sampah. Uang yang terkumpul menjadi tabungan siswa dan dipakai untuk membayar iuran. Adapun sisanya menjadi tabungan dan biasanya diambil menjelang Lebaran. Menurut Endang, tidak semua sampah yang diserahkan wali siswa dijual. Sampah yang kondisinya masih bagus akan didaur ulang menjadi barang bermanfaat, seperti tas, sandal, topi, keranjang, bunga hias, dan nampan. Setiap minggu pengurus dan anggota bank sampah yang berjumlah 135 orang dan orangtua siswa berkumpul membuat kerajinan tangan bersama-sama. Hasilnya dijual. Kini, sekolah Hijau Daun banyak diminati masyarakat, termasuk kalangan ekonomi menengah. Perbandingan siswa dari kalangan ekonomi kurang mampu dan menengah saat ini 50:50. ”Siswa yang berasal dari ekonomi menengah kami kenakan biaya lebih besar. Ini subsidi silang,” tutur Endang yang juga seorang herbalis. Perlahan tetapi pasti Hijau Daun dan semangat yang ada di sekolah itu telah memberi manfaat bagi orang di sekelilingnya. Saat ini Hijau Daun pun bukan sekadar menjadi tempat menuntut ilmu bagi anak usia dini, melainkan juga bermanfaat untuk kepentingan lain, seperti tempat observasi oleh mahasiswa dan anggota PKK di wilayah Kediri yang ingin belajar lingkungan dan tanaman berkhasiat yang ada di dalamnya. (WER) ..........SUMBER, KOMPAS, JUMAT 28 NOPEMBER 2017, HALAMAN 28
Jumat, 28 November 2014
Badan Nasional Penanggulangan Bencana memprediksi potensi terjadi banjir pada awal 2015. Tepatnya pada minggu ketiga Januari, banjir diperkirakan terjadi di 634 RW yang tersebar di 125 kelurahan dan 37 kecamatan di seluruh Jakarta. Antisipasi sejak dini, termasuk penanganan korban, mulai dilakukan. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, Kamis (27/11), mengatakan, dari catatan selama ini, puncak musim hujan di Jakarta dan sekitarnya terjadi pada Desember dan Januari/Februari. Selama ini, banjir sering terjadi karena turun hujan dengan intensitas sangat tinggi pada satu waktu. Potensi banjir kian besar dengan naiknya debit air di 13 sungai yang bermuara di Jakarta. Berdasarkan hitung-hitungan itu, BNPB memprediksi ancaman banjir pada awal tahun depan dan cakupan persebaran genangan. ”Jumlah penduduk terdampak banjir kami perkirakan 276.999 jiwa,” kata Sutopo, kemarin, di Jakarta. Persiapan banjir masih terus dilakukan, baik oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta maupun BNPB. BNPB, menurut Sutopo, sudah mendekatkan peralatan dan personel ke titik-titik rawan banjir. Selain itu, BNPB menyediakan Rp 75 miliar untuk penanggulangan banjir. Dari jumlah itu, Rp 8 miliar di antaranya disiapkan untuk modifikasi cuaca. ”Modifikasi cuaca dilakukan jika ada permintaan dari Gubernur DKI Jakarta,” katanya. Dia berharap, masyarakat ikut mempersiapkan logistik pribadi untuk tiga hari sebagai langkah antisipasi jika harus mengungsi atau terdampak banjir. Warga diimbau tidak membuang sampah sembarangan. Normalisasi sungai Sutopo menambahkan, normalisasi Kali Pesanggrahan, Kali Angke, dan sodetan Ciliwung-Kanal Timur masih terkendala persoalan pembebasan lahan. Kepala Bagian Sumber Daya Alam Dinas Pekerjaan Umum Kota Tangerang Taufik Syazaeni mengakui, normalisasi Kali Angke belum merata karena proyek dilakukan bersamaan dengan proses pembebasan lahan. Normalisasi Kali Angke di Kota Tangerang sepanjang 21,9 kilometer. Normalisasi Kali Angke ini, kata Taufik, akan membebaskan Perumahan Ciledug Indah 1 dan 2, dan Puri Kartika dari banjir. Sementara itu, Guru Besar Manajemen Lanskap Institut Pertanian Bogor Hadi Susilo Arifin menyarankan pemerintah daerah di Jabodetabek membuat sodetan atau coakan yang berfungsi sebagai tempat parkir air guna mengurangi dampak banjir akibat sungai meluap. ”Jika dibuat di bantaran sungai yang berstatus tanah negara, biaya pembuatan bisa ditekan,” kata Hadi dalam diskusi fokus grup manajemen lanskap untuk Daerah Aliran Sungai Ciliwung, Senin lalu. Hadi menyarankan, pembuatan sodetan agar segera diwujudkan di Ciliwung. Sungai ini mengalir sepanjang 117 kilometer dari Kabupaten Bogor sampai Jakarta Utara. Daerah Aliran Sungai Ciliwung sejak 1978 mengalami tekanan berupa pengurangan luas tutupan hutan dan badan air. Pada 1978, tutupan hutan seluas 5.616 hektar dan badan air seluas 675 hektar. Kini, tersisa tutupan hutan seluas 5.175 hektar dan badan air seluas 581 hektar. Dari 117 km panjang Ciliwung, sepanjang 80 km di antaranya relatif datar. Di setiap kilometer bisa dibuat sodetan dan kolam retensi berdimensi panjang 10 meter, lebar 5 meter, dan kedalaman 5 meter. Setiap kolam dapat menampung 2,5 juta liter air. Pada masa puncak musim hujan jika ada 80 sodetan dan kolam, air yang tertampung bisa mencapai 200 juta liter. (BRO/ART/PIN)..........SUMBER, KOMPAS, JUMAT 28 NOPEMBER 2017, HALAMAN 33
PABRIK SEMEN : WARGA MEMINTA PRESIDEN MENYELESAIKAN KONFLIK
PRESIDEN : JANGAN LAGI BAKAR HUTAN
PROPER : INSENTIF LANGSUNG TAK DIRASAKAN
Dokumen AMDAL
Asia Petroleum Development...
Asia Petroleum Development...
Indorama Synthetics Tbk.
Pustaka Digital
Kementerian Lingkungan Hidup...
Kementerian Lingkungan Hidup
Kementerian Lingkungan Hidup
Peraturan Perundangan
Peraturan Daerah Kabupaten
Peraturan Daerah Kabupaten
Peraturan Menteri Negara...
SLHD
Pemerintah Kota Padang
Pemerintah Provinsi Bali
Bapedalda Riau
Direktori Lingkungan Hidup
Ilmu dan Teknologi Institusi dan Perorangan
Kawasan Kegiatan
Komputer dan Internet Masyarakat dan Budaya
Anak, Etika, Gender ...
Perubahan Iklim dan Alam Sumber Daya Alam
Air, Energi, Fauna ...
BUANGAN RUMAH TANGGA
Buangan yang berasal bukan dari industri melainkan berasal dari rumah tangga, kantor, restoran, tempat ibadah, pasar, pertokoan
Guest User
Member User
Total User
Hits21522276 Hits
Today227 Hits
Hak Cipta © 2008 - 2013 Kementerian Lingkungan Hidup, Hak Cipta Dilindungi Undang-undang
Jl. D.I Panjaitan Kav. 24, Kebon Nanas, Jakarta Timur 13410, Gedung A, Lt.1 Telp : 021-85907286
Jika komputer anda tidak tersedia
aplikasi Adobe Reader,
Klik disini untuk Mengunduh/Download!