×

INFO PENTING!!!

Perpustakaan KLHK tidak pernah menawarkan kepada Perusahaan manapun untuk penjualan Buku Peraturan LH.

Senin, 26 September 2016
Full teks Content E-Book dalam format file .pdf, dapat diunduh jika anda terdaftar sebagai Anggota Perpustakaan premium dengan biaya keanggotaan sebesar Rp. 100.000,-/tahun. Untuk Cara pembayaran dapat dilihat menu KEANGGOTAAN pada submenu JENIS KEANGGOTA      
Cari di Bagian :
Tahun :
Katalog Perpustakaan
Info Buku Terbaru
Lihat saran-saran ataupun informasi yang pernah anda kirim ke kami? Dapat dilihat disini!. Atau jika anda Memiliki saran-saran atau tanggapan atas pelayanan Perpustakaan Emil Salim ini? Klik Disini!
Kami Baca Untuk Anda
Senin, 26 September 2016
Banjir dan longsor yang kerap melanda Kota Ambon, Maluku, dalam lima tahun terakhir dan mengakibatkan belasan orang meninggal hingga kini masih terus mengancam. Namun, kawasan hutan di perbukitan tetap dirambah dan dijadikan permukiman penduduk. Kerusakan serupa juga terjadi di kawasan hutan bakau pesisir Teluk Ambon. Menurut pemantauan di Ambon, Minggu (25/9), pembukaan lahan masih terus berlangsung di Gunung Nona, Kecamatan Nusaniwe; Batumerah, Kecamatan Sirimau; dan Halong, Kecamatan Baguala. Bahkan, ada yang warga yang nekat membangun rumah di pinggir kali dan sekitar tebing. Kawasan itu selalu menjadi langganan banjir dan terancam longsor setiap kali hujan lebat. "Tidak ada ketegasan dari pemerintah untuk menertibkan bangunan itu. Pembangunan terjadi setelah konflik sosial. Dampaknya mulai terasa lima tahun terakhir, seperti banjir dan longsor," kata Halid (51), warga Desa Batumerah, Kecamatan Sirimau. Konflik sosial melanda Ambon sejak 1999 dan reda tahun 2003. Sekitar 25.448,79 hektar lahan memerlukan penanganan segera. Dari jumlah tersebut, lahan agak kritis 14,897,08 hektar, kritis 3.332,13 hektar, potensial kritis 7.024,41 hektar, dan sangat kritis 195,17 hektar. Belum ada upaya signifikan untuk merehabilitasi lahan itu. Alih fungsi lahan malah semakin meluas. Lahan kritis memicu banjir dan longsor. Sebanyak tiga daerah aliran sungai besar, yakni Wai Batumerah, Wai Pia Besar, dan Wai Yori, meluap mencapai ketinggian lebih dari 10 meter dan merendam permukiman penduduk. Tercatat 15 warga tewas pada 2012 dan 2013. Di pesisir Teluk Ambon, pemerintah mengizinkan pembangunan tempat usaha di areal hutan bakau pada sejumlah titik di Kacamatan Baguala, seperti Passo dan Lateri. Padahal, sejak dulu, hutan bakau di kawasan itu dirawat masyarakat dan menjadi lokasi penelitian. Perusakan hutan bakau memicu rob semakin parah. Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Stasiun Meteorologi Pattimura Ambon, Rion S Salman, mengatakan, curah hujan tahun ini bakal mencapai 50 milimeter per tiga jam. Untuk ukuran normal, dalam kurun waktu yang sama, curah hujan tidak lebih dari 20 milimeter. Kondisi semacam itu masih berpeluang terulang lagi. Tingginya curah hujan itu dapat memengaruhi kondisi tanah. Tanah yang sudah sering terkena hujan otomatis akan jenuh. Artinya, penyerapan air hujan sudah rendah. Itu memicu banjir dan berpotensi longsor. (FRN)....................SUMBER, KOMPAS, SENIN 26 SEPTEMBER 2016, HALAMAN 21
Senin, 26 September 2016
Target peningkatan populasi badak sumatera sebesar 10-30 persen di habitat alamnya di Indonesia tidak tercapai. Jumlah badak di kantong-kantong habitatnya justru menurun. Penguatan pendataan dan pemantauan diperkuat agar strategi peningkatan populasi bisa efektif diterapkan di lapangan. "Jumlah badak sumatera diperkirakan kurang dari 100 ekor. Habitatnya tersebar di blok-blok hutan yang kian menyempit di Sumatera dan Kalimantan," kata Samedi, Direktur Program Aksi Konservasi Hutan Tropis (TFCA) Sumatera Yayasan Kehati, Jumat (23/9), di Jakarta. Ia bersama Puspa D Liman, Direktur Program TFCA Kalimantan; Indra Eksploitasia, dokter hewan di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan; dan Moh Haryono, Kepala Subdirektorat Sumberdaya Genetika KLHK, menjadi pembicara dalam diskusi peringatan Hari Badak Internasional. Samedi mengatakan, Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Badak 2007-2017 menargetkan peningkatan populasi 30 persen badak sumatera. Saat strategi ditetapkan, jumlah badak sumatera diperkirakan 120 ekor, kini menjadi kurang dari 100 ekor. Target terbaru, meningkatkan 10 persen populasi 25 satwa dilindungi (termasuk badak jawa dan sumatera) pada 2015-2019. Dengan permasalahan tekanan habitat akibat fragmentasi, spesies invasif, dan penyakit, target itu butuh terobosan berani. Penurunan habitat, kata Samedi, diduga karena populasinya kecil pada kantong-kantong badak yang terpisah jauh. Populasi itu di Taman Nasional (TN) Gunung Leuser, TN Way Kambas, TN Bukit Barisan Selatan di Sumatera, dan Kutai Barat di Kalimantan Timur. Puspa mengatakan, badak sumatera di Kaltim hingga kini ada tiga individu yang tertangkap kamera tersembunyi di belantara Kutai Barat seluas 400.000 hektar. Satu ekor di antaranya, badak Najaq, mati tiga pekan setelah terjebak akibat infeksi di kaki. Menurut rencana, individu-individu badak itu akan ditranslokasikan ke suaka 6.000 hektar. Lokasinya di bekas tambang PT Kelian Ekuatorial Mining yang telah direklamasi. "Pembangunan konstruksi butuh Rp 2,5 miliar. Hingga tahun 2018 mungkin masih bisa dibantu perusahaan untuk perlindungan dan pengelolaan," katanya. Menurut Haryono, peningkatan populasi satwa liar perlu data monitoring. Taman Nasional Ujung Kulon, satu-satunya habitat badak jawa memulai penguatan monitoring sejak 2011. Monitoring, termasuk identifikasi penyakit. (ICH)....................SUMBER, KOMPAS, SENIN 26 SEPTEMBER 2016, HALAMAN 14
PENCEMARAN SUNGAI : WARGA BARITO TIMUR MINTA KEJELASAN
REKLAMASI BENOA : 4 ORANG DIPERIKSA POLISI
KODISI DAS KRITIS
Dokumen AMDAL
Asia Petroleum Development...
Asia Petroleum Development...
Indorama Synthetics Tbk.
Pustaka Digital
Kementerian Lingkungan Hidup...
Kementerian Lingkungan Hidup
Kementerian Lingkungan Hidup
Peraturan Perundangan
Peraturan Menteri Lingkungan...
Peraturan Menteri Lingkungan...
Peraturan Daerah Kabupaten
SLHD
Pemerintah Provinsi Sumatera...
Pemerintah Provinsi Bengkulu
Pemerintah Kabupaten Bangli
Direktori Lingkungan Hidup
Ilmu dan Teknologi Institusi dan Perorangan
Kawasan Kegiatan
Komputer dan Internet Masyarakat dan Budaya
Anak, Etika, Gender ...
Perubahan Iklim dan Alam Sumber Daya Alam
Air, Energi, Fauna ...
PANTAI BERBATU CADAS
Merupakan pantai dengan substart didominasi oleh batuan cadas yang terkadang gampang rapuh. Dapat dijumpai pada daerah pantai dengan bentuk pantai tebing maupun yang hanya dalam bentuk batuan cadas yang tajam.
Guest User
Member User
Total User
Hits22840483 Hits
Today939 Hits
Hak Cipta © 2008 - 2013 Kementerian Lingkungan Hidup, Hak Cipta Dilindungi Undang-undang
Jl. D.I Panjaitan Kav. 24, Kebon Nanas, Jakarta Timur 13410, Gedung A, Lt.1 Telp : 021-85907286
Jika komputer anda tidak tersedia
aplikasi Adobe Reader,
Klik disini untuk Mengunduh/Download!