Rabu, 04 Mei 2016
Full teks Content E-Book dalam format file .pdf, dapat diunduh jika anda terdaftar sebagai Anggota Perpustakaan premium dengan biaya keanggotaan sebesar Rp. 100.000,-/tahun. Untuk Cara pembayaran dapat dilihat menu KEANGGOTAAN pada submenu JENIS KEANGGOTA      
Cari di Bagian :
Tahun :
Katalog Perpustakaan
Info Buku Terbaru
Lihat saran-saran ataupun informasi yang pernah anda kirim ke kami? Dapat dilihat disini!. Atau jika anda Memiliki saran-saran atau tanggapan atas pelayanan Perpustakaan Emil Salim ini? Klik Disini!
Kami Baca Untuk Anda
Rabu, 04 Mei 2016
Pembuatan sumur bor di kawasan gambut dipercaya sebagai langkah pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan. Kehadiran sumur bor juga dinilai sebagai langkah yang cepat, pasalnya bisa menjadi cara paling efi sien untuk mendekatkan sumber air ke lokasi rawan kebakaran. Sebelumnya, akses air yang jauh menjadi salah satu masalah dalam hal pemadaman. Akan tetapi, dengan adanya sumur bor, tidak hanya membuat penanggulangan kebakaran lahan dapat dilakukan segera, tapi juga membawa manfaat lain, yakni pembasahan lahan gambut secara berkala dengan mudah. “Juga bisa untuk keperluan air sehari-hari warga,” ungkap pakar gambut dan kebakaran hutan Universitas Palangkaraya Aswin Usup saat ditemui dalam Simbolisasi Pembuatan 50 Sumur Bor yang dilakukan Badan Restorasi Gambut (BRG) di Desa Rimbo Panjang, Kabupaten Kampar, Riau, kemarin. Daya jangkau sumur bor, lanjut Aswin, bergantung pada kekuatan pompa yang digunakan. Dalam hal ini, bantuan dari BRG mampu menjangkau hingga 200 meter. Itu berarti, setiap sumur bor yang terpasang akan dapat menjangkau area hingga 4 hektare. Namun, jika menggunakan rumus keliling lingkaran, secara teori, itu dapat menjangkau hingga 12,4 hektare. Pada prinsipnya, sumur bor menyedot air di bawah permukaan tanah. “Jadi kami melewati lapisan gambut, ta nah, pasir, hingga tanah keras lagi,” papar Aswin. Air tanah yang dihasilkan sumur bor itu dapat juga menjadi bahan konsumsi warga karena tingkat keasaman (Ph) yang terkandung hanya 5,5. Debit air sumur bor pada umumnya 1,5 liter per detik. “Namun, di sini mencapai 1,7 liter per detik. Itu artinya air di sini melimpah, apalagi jika musim kemarau, umumnya air tidak akan mengalami penyusutan,” jelasnya. dan rusak, satu tahun tidak akan terlihat ada perbedaan,“ terang Nazir saat ditemui dalam kesempatan yang sama.Menurutnya, kondisi gambut yang kering untuk kembali prima membutuhkan waktu dua hingga tiga tahun. Alasan lain, pembuatan sekat kanal juga memakan biaya lebih banyak ketimbang sumur bor yang hanya menghabiskan dana Rp2,5 juta per sumur. Duta Besar Norwegia untuk Indonesia Stig Traavik menilai langkah antisipasi Indonesia tersebut perlu mendapat apresiasi. Ia menganggap ke seriusan pemerintah Indonesia dalam melakukan implementasi pencegahan membuktikan komitmen yang diucapkan dalam Konferensi Perubahan Iklim di Paris tahun lalu. “Akan tetapi saya tidak yakin tahun ini kita bisa bebas api, mungkin itu bisa terealisasi dua atau tiga tahun lagi,“ ungkap Traavik. (H-5) richaldo @mediaindonesia.com................SUMBER, MEDIA INDONESIA , RABU 4 MEI 2016, HALAMAN 12
Rabu, 04 Mei 2016
Permukiman padat di sepanjang bantaran Sungai Batanghari mulai dari Kota Jambi hingga Kabupaten Muaro Jambi terendam luapan air sungai tersebut, Selasa (3/5). Sebagian akses jalan di permukiman pun tertutup. Warga diimbau mewaspadai ancaman banjir yang masih akan berlangsung hingga sepekan ke depan. Dalam pantauan Kompas, genangan air meninggi di sepanjang bantaran sungai yang dimanfaatkan sebagai permukiman, mulai dari kawasan Seberang di Kota Jambi hingga bantaran sungai di kompleks percandian Muaro Jambi di Kabupaten Muaro Jambi. Di Kelurahan Olak Kemang, Kota Jambi, ketinggian banjir hampir 1 meter. Kondisi serupa terjadi di Desa Muaro Jambi. Jalan-jalan setapak yang lebih tinggi 30 sentimeter dari permukaan tanah pun tidak terlihat lagi. Warga pun melintasi jalan tersebut dengan menggunakan perahu. Menurut Borju, warga Desa Muaro Jambi, luapan sudah mulai berlangsung sejak tiga hari lalu. Kemarin genangan air makin tinggi. "Kami mulai berjaga- jaga karena air sepertinya terus bertambah tinggi," ujarnya. Luapan air sungai juga mengakibatkan tingginya muka air kanal kuno di kompleks percandian Muaro Jambi. Jarak tinggi muka air kanal dengan candi dan menapo (struktur bata kuno membentuk candi) hanya tinggal sekitar 40-50 sentimeter. Banjir berpotensi merusak candi dan menapo di kawasan tersebut. Kepala Seksi Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi Dalmanto mengatakan, sejak Selasa pagi tinggi muka air Sungai Batanghari di Pos Tanggo Rajo Kota Jambi sudah mencapai 13,25 meter. "Ketinggian air terus meningkat," katanya. Dalmanto mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi banjir besar dalam dua hari ke depan. Hal itu didasari oleh banjir kiriman dari hulu yang telah melewati wilayah Kabupaten Batanghari. "Dalam dua hari lagi, banjir kiriman itu akan memasuki Kota Jambi sehingga potensi banjirnya meningkat," ujar Dalmanto. Dia mengatakan, kondisi air laut pasang pada pekan ini turut memperbesar ancaman banjir di daerah hilir. Hujan intensitas tinggi Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Jambi Kurnianingsih juga mengingatkan bahwa intensitas hujan masih tinggi pekan ini, khususnya di wilayah Jambi bagian barat, seperti di Kabupaten Kerinci, Sungai Penuh, Bungo, Merangin, dan Sarolangun. Hujan yang terjadi umumnya disertai petir dan angin kencang. Peluang hujan juga cukup merata di seluruh wilayah Jambi. Paling tidak hingga pekan ini sebagian kabupaten di Provinsi Jambi telah menetapkan status tanggap darurat banjir dan longsor. Daerah-daerah tersebut adalah Merangin, Sungai Penuh, Bungo, Sarolangun, dan Tebo. Penetapan status tanggap darurat tersebut seiring dengan intensitas banjir yang tinggi. Banjir bandang pun tercatat paling banyak terjadi pada musim hujan kali ini, mengakibatkan dampak yang sangat besar. Paling tidak ada 15 kejadian banjir bandang menerjang sejumlah wilayah di Jambi dalam 1,5 bulan terakhir. Musibah tersebut mengakibatkan tiga warga tewas akibat terbawa arus, lebih dari 40 rumah warga hanyut, serta lima jembatan putus dan rusak. Lima unit pembangkit listrik bertenaga mikrohidro juga rusak diterjang banjir. Hal ini mengakibatkan pemadaman listrik berkepanjangan di sejumlah desa di Merangin dan Sarolangun. Kondisi tersebut belum termasuk ribuan rumah serta fasilitas umum dan sosial yang terendam dan rusak akibat banjir bandang. (ITA)..................SUMBER, KOMPAS, RABU 4 MEI 2016, HALAMAN 22
KEARIFAN LOKAL : MEMELIHARA YANG MASIH TERSISA
KONSERVASI ORANGUTAN : BUKIT RAYA SIAP DIGUNAKAN
TAHURA JUANDA JADI KAWASAN MINAT KHUSUS
Dokumen AMDAL
Asia Petroleum Development...
Asia Petroleum Development...
Indorama Synthetics Tbk.
Pustaka Digital
Kementerian Lingkungan Hidup
Kementerian Lingkungan Hidup
Kementerian Lingkungan Hidup
Peraturan Perundangan
Peraturan Menteri Lingkungan...
Peraturan Daerah Kabupaten
Peraturan Daerah Kabupaten
SLHD
Badan Lingkungan Hidup Dan...
Badan Lingkungan Hidup...
Pemerintah Kabupaten Lima...
Direktori Lingkungan Hidup
Ilmu dan Teknologi Institusi dan Perorangan
Kawasan Kegiatan
Komputer dan Internet Masyarakat dan Budaya
Anak, Etika, Gender ...
Perubahan Iklim dan Alam Sumber Daya Alam
Air, Energi, Fauna ...
LIMBAH B3
Sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat Mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup, dan/atau dapat
membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain
Guest User
Member User
Total User
Hits22706688 Hits
Today721 Hits
Hak Cipta © 2008 - 2013 Kementerian Lingkungan Hidup, Hak Cipta Dilindungi Undang-undang
Jl. D.I Panjaitan Kav. 24, Kebon Nanas, Jakarta Timur 13410, Gedung A, Lt.1 Telp : 021-85907286
Jika komputer anda tidak tersedia
aplikasi Adobe Reader,
Klik disini untuk Mengunduh/Download!