Rabu, 03 September 2014
Full teks Content E-Book dalam format file .pdf, dapat diunduh jika anda terdaftar sebagai Anggota Perpustakaan premium dengan biaya keanggotaan sebesar Rp. 50.000,-/tahun.      SELAMAT DATANG DI PERPUSTAKAAN EMIL SALIM KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP , DISINI ANDA DAPAT MENDOWNLOAD PERATURAN LINGKUNGAN SEBANYAK 2215 DALAM VERSI INDONESIA DAN INGGRIS, BUKU SEBANYAK 1006, LAPORAN SLHD SEBANYAK 450 BUKU, KLIPING SEBANYAK 2676 INFORMAS      
Cari di Bagian :
Tahun :
Katalog Perpustakaan
Info Buku Terbaru
Lihat saran-saran ataupun informasi yang pernah anda kirim ke kami? Dapat dilihat disini!. Atau jika anda Memiliki saran-saran atau tanggapan atas pelayanan Perpustakaan Emil Salim ini? Klik Disini!
Kami Baca Untuk Anda
Rabu, 03 September 2014
TIDAK seperti umumnya konferensi internasional yang melibatkan peserta dari sejumlah negara, itulah Konferensi Internasional Bangunan Berstandar Hijau (International Green Building Conference/IGBC) 2014 di Singapura, 1-3 September. Jauh-jauh hari, panitia mengingatkan, aturan berpakaian peserta no coat, no tie, tanpa dasi dan tak perlu berjas. Dan, benar saja. Hari pertama, seorang peserta dengan ”pakaian standar” konferensi internasional bergegas mencopot dasi dan jasnya saat diingatkan temannya. Jadilah seisi ruangan berkapasitas seribu orang itu dipenuhi para peserta dengan setelan baju lengan panjang atau pakaian tanpa blazer bagi perempuan. ”Stan-stan pameran pun memakai lampu-lampu LED (hemat energi),” kata Direktur Pengelola REED Exhibitions, Michelle Lim, sebelum pembukaan IGBC 2014 dan Build Eco Xpo Exhibition 2014 di Marina Bay Sands (BMS) Singapura, Senin lalu. Tahun ini, 413 perusahaan ikut pameran berbarengan dengan konferensi yang dihadiri lebih dari seribu peserta, belum termasuk peserta pameran. Lalu, kenapa tanpa dasi dan jas? Apa tak kedinginan? Penyelenggara meminta pengelola gedung mengatur pendingin ruangan di posisi 25 derajat celsius selama kegiatan. Itu diyakini cukup sejuk dan lebih efisien konsumsi energinya. Maka, Menteri Pembangunan Nasional Singapura Khaw Boon Wan pun membuka acara dengan setelan baju lengan panjang. Selain soal suhu, panitia juga tak menyediakan minuman dalam kemasan plastik. Gelas dan dispenser disiapkan bagi pembicara dan peserta. Para peliput diberi wadah minuman yang bisa diisi ulang. Pemakaian plastik dikurangi sebanyak mungkin. Bahkan, kotak khusus disediakan bagi peserta agar mengembalikan tali identitas peserta berbahan serat plastik sehingga bisa dipakai ulang pada IGBC ke-7 tahun 2015. Karena itu, tak ada keterangan waktu penyelenggaraan acara di tali identitas itu. Pemakaian kertas pun ditekan. Hampir tak ada salinan paparan dicetak pada kertas selama konferensi, yang biasanya bertebaran. Semuanya diakses dalam format digital. Keunikan lain, penyelenggara mengadakan tur melihat bangunan berstandar hijau (ramah lingkungan), green building, dengan berjalan kaki atau memakai transportasi publik. Itu terkait jejak karbon atau mengurangi emisi gas rumah kaca pemicu pemanasan global dari sektor transportasi. Salah satu pembicara menyatakan, inisiatif sederhana itu sepertinya tak signifikan, tapi sarat makna. ”Langkah pengurangan emisi, termasuk menerapkan green building, bermula dari kesadaran awal,” kata CEO Otoritas Konstruksi dan Bangunan Singapura John Keung. Soal kesadaran itu yang perlu banyak dipompa di Indonesia. Menanggalkan dasi dan jas adalah simbol kesadaran itu.(GESIT ARIYANTO).......................SUMBER, KOMPAS, 3 SEPTEMBER 2014, HALAMAN 14
Rabu, 03 September 2014
emarang, Kompas Garis pantai di utara Pulau Jawa terus mundur dengan tingginya laju abrasi akibat kerusakan di kawasan pesisir. Untuk itu, penyelamatan harus segera dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan semua pihak. Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro, Semarang, Johannes Hutabarat, akhir pekan lalu, memaparkan hal itu dalam lokakarya ”Kebijakan Pembangunan di Darat dan Dampaknya terhadap Pesisir Laut” di Kota Semarang, Jawa Tengah. Ia menjelaskan, kemunduran garis pantai tertinggi terjadi di Sayung, Demak, yaitu 175 meter sejak 2010 hingga pertengahan 2014. Bahkan, sebuah desa tenggelam akibat abrasi. Angka kemunduran garis pantai yang tinggi juga terjadi di Pemalang, yakni 107 meter, dalam kurun waktu sama. Di daerah lain, garis pantai rata-rata mundur 50-80 meter. Kerusakan pesisir memengaruhi ekosistem laut. Luasan ekosistem terumbu karang di Jateng turun dari 1.377,18 hektar pada 2011 menjadi 987,62 hektar pada 2012. Dari jumlah itu, terumbu karang yang dalam kondisi baik hanya 404 hektar dan luasan yang rusak 577 hektar. Sisanya dalam kondisi sedang. Menurut Johannes, kerusakan akibat pembangunan yang mengabaikan lingkungan. Reklamasi di Kota Semarang, misalnya, berdampak besar terhadap abrasi di pesisir Demak. Karena itu, perlu penanganan darurat dengan melibatkan perusahaan yang telanjur punya kawasan pesisir. ”Yang bisa dilakukan adalah membangun alat pemecah ombak dari ranting mangrove,” ujarnya. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Jawa Tengah Heru Setiadi menyebutkan, abrasi tertinggi terjadi di Kabupaten Brebes seluas 2.115 hektar, diikuti Demak 1.016 hektar, dan Rembang 852 hektar. Total abrasi di Jateng 6.566 hektar dan ada sedimentasi 12.585 hektar. (UTI)........................SUMBER, KOMPAS, 3 SEPTEMBER 2014, HALAMAN 14
PUKAT HARIMAU RUSAK EKOSISTEM, NELAYAN ALIH PROFESI
PABRIK SEMEN : WARGA KENDENG UTARA GUGAT SK GUBERNUR KE PTUN
HUTAN DIKUASAI PERAMBANG
Dokumen AMDAL
Asia Petroleum Development...
Asia Petroleum Development...
Indorama Synthetics Tbk.
Pustaka Digital
Kementerian Lingkungan Hidup
Kementerian Lingkungan Hidup
Kementerian Lingkungan Hidup
Peraturan Perundangan
Peraturan Daerah Provinsi
Peraturan Daerah Kabupaten
Peraturan Daerah Kabupaten
SLHD
Pemerintah Kota Padang
Pemerintah Provinsi Bali
Bapedalda Riau
Direktori Lingkungan Hidup
Ilmu dan Teknologi Institusi dan Perorangan
Kawasan Kegiatan
Komputer dan Internet Masyarakat dan Budaya
Anak, Etika, Gender ...
Perubahan Iklim dan Alam Sumber Daya Alam
Air, Energi, Fauna ...
KONSTANTA SOLAR
Jumlah radiasi surya langsung persatuan waktu. Sudut lancip antara berkas sinar yang datang pada permukaan terluar atmosfer dengan berkas sinar yang menimpa bumi, disebut jarak ke surya.
Guest User
Member User
Total User
Hits21296404 Hits
Today891 Hits
Hak Cipta © 2008 - 2013 Kementerian Lingkungan Hidup, Hak Cipta Dilindungi Undang-undang
Jl. D.I Panjaitan Kav. 24, Kebon Nanas, Jakarta Timur 13410, Gedung A, Lt.1 Telp : 021-85907286
Jika komputer anda tidak tersedia
aplikasi Adobe Reader,
Klik disini untuk Mengunduh/Download!